وَلَمَّا بَرَزُوا۟ لِجَالُوتَ وَجُنُودِهِۦ قَالُوا۟ رَبَّنَآ أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَٱنصُرْنَا عَلَى ٱلْقَوْمِ ٱلْكَٰفِرِينَ
“Dan ketika mereka maju melawan Jalut dan tentaranya, mereka berdoa, ‘Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami, teguhkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.’”
(QS. Al-Baqarah: 250)
Ada kisah yang sangat menarik di balik doa ini. Doa tersebut dilantunkan oleh pasukan Thalut ketika mereka menghadapi pasukan Jalut. Dalam kondisi yang serba sulit, dengan jumlah pasukan yang terbatas dan berbagai keterbatasan lainnya, mereka tidak larut dalam ketakutan. Mereka justru mengangkat doa kepada Allah: memohon kesabaran, keteguhan pendirian, dan pertolongan.
Kisah ini bermula dari Bani Israil. Mereka meminta kepada nabi mereka agar diangkat seorang pemimpin yang dapat memimpin mereka dalam peperangan. Mereka ingin berjuang, tetapi mereka membutuhkan seorang pemimpin yang menyatukan barisan.
Allah kemudian mengangkat Thalut sebagai pemimpin mereka. Namun, ketika Thalut ditetapkan sebagai pemimpin, sebagian dari mereka justru menolak. Mereka mempersoalkan latar belakang Thalut. Menurut mereka, Thalut bukan berasal dari kalangan bangsawan dan bukan pula orang yang kaya.
Padahal, Allah memilih Thalut bukan karena kekayaan dan kedudukannya. Allah memilihnya karena memberikan kepadanya keluasan ilmu dan kekuatan jasmani.
Ketika Thalut mulai memimpin, ujian pun dimulai. Sebagian dari mereka tidak benar-benar siap menerima kepemimpinan tersebut. Ada yang mundur, ada yang ragu, dan ada pula yang tetap bertahan.
Dengan pasukan yang tersisa, Thalut kemudian membawa mereka menuju sebuah sungai. Allah belum langsung mempertemukan mereka dengan Jalut. Sebelum menghadapi musuh yang besar, mereka terlebih dahulu diuji dengan sesuatu yang sederhana: air sungai.
Thalut berkata kepada pasukannya:
إِنَّ اللَّهَ مُبْتَلِيكُم بِنَهَرٍ ۖ فَمَن شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّي ۖ وَمَن لَّمْ يَطْعَمْهُ فَإِنَّهُ مِنِّي إِلَّا مَنِ اغْتَرَفَ غُرْفَةًۢ بِيَدِهِ
“Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan sebuah sungai. Barang siapa meminum airnya, maka dia bukanlah pengikutku. Barang siapa tidak meminumnya, maka dia adalah pengikutku, kecuali mengambil seciduk dengan tangannya.”
(QS. Al-Baqarah: 249)
Apa yang terjadi?
Mayoritas pasukan gagal melewati ujian tersebut. Sebagian tetap taat dan tidak meminumnya. Sebagian lainnya hanya mengambil seciduk dengan tangannya. Namun, sebagian besar tidak mampu menahan diri dan meminum air sungai itu dengan berlebihan.
Di sinilah kita menemukan pelajaran penting: ujian besar sering kali diawali dengan ujian yang sederhana.
Mereka belum berhadapan dengan Jalut. Mereka belum mendengar suara peperangan. Mereka belum melihat pedang dan tombak. Mereka hanya berhadapan dengan air sungai.
Tetapi justru di situlah barisan mereka disaring.
Ketika mereka telah melewati sungai dan melihat pasukan Jalut yang besar, sebagian dari mereka yang tidak mampu bertahan dalam ujian berkata:
لَا طَاقَةَ لَنَا الْيَوْمَ بِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ
“Tak ada kesanggupan bagi kami pada hari ini untuk menghadapi Jalut dan tentaranya.”
Mereka melihat besarnya jumlah pasukan Jalut. Mereka melihat kekuatan musuh. Mereka melihat kenyataan dengan ukuran-ukuran manusiawi. Karena itu, keberanian mereka runtuh sebelum peperangan benar-benar dimulai.
Tetapi kelompok yang tetap taat dan memiliki keyakinan kepada Allah memiliki pandangan yang berbeda. Mereka berkata:
كَم مِّن فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةًۢ بِإِذْنِ ٱللَّهِ
“Betapa banyak kelompok yang sedikit telah mengalahkan kelompok yang banyak dengan izin Allah.”
Kemudian mereka melanjutkan keyakinannya dengan sebuah kalimat yang sangat dalam:
وَٱللَّهُ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ
“Dan Allah bersama orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 249)
Inilah titik penting dalam kisah Thalut.
Pasukan itu tidak hanya sedang diuji kekuatan fisiknya. Mereka sedang diuji ketaatannya.
Allah ingin menyaring siapa yang benar-benar siap berjuang dan siapa yang hanya ingin ikut ketika keadaan mudah.
Haus menggoda. Air berada di depan mata. Keinginan diri mendorong untuk meminumnya. Tetapi perintah Allah harus lebih tinggi daripada keinginan diri.
Maka, orang-orang yang mampu menahan diri tetap berjalan bersama Thalut. Sementara mereka yang tidak mampu menahan diri mulai tertinggal.
Ketika kemudian mereka melihat besarnya pasukan Jalut, sebagian kembali berkata, “Kami tidak sanggup hari ini menghadapi Jalut dan tentaranya.”
Tetapi orang-orang yang yakin kepada perjumpaan dengan Allah berkata:
“Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah.”
Inilah mentalitas seorang pejuang.
Ia tidak berkata, “Kami pasti menang karena kami kuat.”
Ia juga tidak berkata, “Kami pasti menang karena jumlah kami banyak.”
Tetapi ia berkata dalam keyakinan: “Kami akan berjuang karena Allah bersama orang-orang yang sabar.”
Pada akhirnya, dengan izin Allah, Jalut pun tumbang. Daud membunuh Jalut, dan Allah memberikan kemenangan kepada pasukan yang beriman.
Bukan karena pasukan Thalut lebih banyak. Bukan karena mereka lebih kaya. Bukan karena mereka memiliki persenjataan yang paling hebat.
Tetapi karena Allah memberikan pertolongan kepada orang-orang yang beriman, taat, sabar, teguh, dan bersedia berjuang di jalan-Nya.
Dan dari tengah suasana genting itu lahirlah sebuah doa yang sangat agung, doa yang seharusnya selalu hidup dalam dada para pejuang:
رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
“Ya Rabb kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami, teguhkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.”
(QS. Al-Baqarah: 250)
Doa ini menarik karena mereka tidak terlebih dahulu meminta kemenangan. Mereka meminta kesabaran.
Mereka tidak pertama-tama meminta agar musuh dihancurkan. Mereka meminta keteguhan kaki.
Mereka tidak mengandalkan kekuatan diri. Mereka meminta pertolongan Allah.
Seakan-akan mereka sedang mengajarkan kepada kita bahwa kemenangan tidak selalu dimulai dari banyaknya pasukan, kuatnya senjata, luasnya sumber daya, atau besarnya kekuasaan. Kemenangan dimulai dari hati yang sabar, kaki yang teguh, ketaatan yang kokoh, dan keyakinan bahwa pertolongan Allah akan datang kepada orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan-Nya.
Inilah kisah Thalut dan Jalut: sebuah kisah tentang bagaimana Allah menyaring barisan, menguji ketaatan, meneguhkan orang-orang yang sabar, dan akhirnya memberikan kemenangan kepada kelompok yang sedikit tetapi memiliki iman yang kokoh.
Sebab, dalam perjuangan, yang paling menentukan bukanlah berapa banyak orang yang berada di dalam barisan, tetapi berapa banyak yang mampu bertahan ketika ujian datang.
Dan barangkali, itulah makna terdalam dari doa pasukan Thalut:
رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
Ya Allah, limpahkan kepada kami kesabaran, teguhkan langkah kami, dan berikanlah kepada kami pertolongan-Mu.
Sarmadani Karani, SE